Info Sinertour
okkkk

KEISTIMEWAAN BATU HAJAR ASWAD

KEISTIMEWAAN BATU HAJAR ASWAD

10/06/2019
23 view

Hajar Aswad tentunya tidak asing lagi bagi Umat Islam Hajar Aswad adalah batu berwarna hitam kemerah-merahan, terletak di sudut selatan, sebelah kiri pintu Ka’bah. Ketinggiannya 1,10 m dari permukaan tanah. Ia tertanam di dinding Ka’bah.

Dahulu, Hajar Aswad berupa satu batu yang berdiameter ± 30 cm. Akibat berbagai peristiwa yang menimpanya selama ini, sekarang Hajar Aswad tersisa delapan butir batu kecil sebesar kurma yang dikelilingi oleh bingkai perak. Namun, tidak semua yang terdapat di dalam bingkai adalah Hajar Aswad. Butiran Hajar Aswad tepat berada di tengah bingkai. Butiran inilah yang disentuh dan dicium oleh jamaah haji.

Hajar Aswad berasal dari surga. Awalnya batu ini berwarna putih. Namun, dia menjadi hitam disebabkan oleh dosa manusia. Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Hajar Aswad turun dari surga dalam keadaan lebih putih daripada susu. Lalu, dosa-dosa Bani Adam lah yang membuatnya hitam.” Demikianlah, bagian dalam Hajar Aswad berwarna putih, sedangkan bagian luarnya berwarna hitam.

Hajar Aswad selalu dimuliakan, baik pada masa Jahiliah, maupun setelah Islam datang. Hingga, pada musim haji tahun 317 H, saat dunia Islam sangat lemah dan bercerai berai, kesempatan ini dimanfaatkan oleh Abu Thahir Al-Qurmuthi, seorang kepala salah satu suku Syi’ah Ismailiyah di Jazirah Arab bagian timur, untuk merampas Hajar Aswad. Dengan 700 anak buah bersenjata lengkap dia mendobrak Masjid Al-Haram dan membongkar Ka’bah secara paksa lalu merebut Hajar Aswad dan mengangkutnya ke negaranya yang terletak di kota Ahsa’ yang terletak di wilayah Bahrain, kawasan Teluk Persia sekarang.

Kemudian, ia membuat maklumat dengan menantang umat Islam. Inti dari maklumat itu, jika ingin mengambil Hajar Aswad, tebuslah dengan sejumlah uang yang pada saat itu sangat berat bagi umat Islam atau dengan perang. Baru setelah 22 tahun (tahun 339 H) batu itu dikembalikan ke Mekah oleh Khalifah Abbasiyah Al-Muthi’ lillah setelah ditebus dengan uang sebanyak 30.000 Dinar. Mereka membawanya ke Kufah, lalu menggantungkannya ke tiang ke tujuh Masjid Jami’. Setelah itu, mereka mengembalikannya ke tempat semula.

Keistimewaan Batu Hajar Aswad

Batu Hajar Aswad akan dibangkitkan pada hari kiamat, dengan mempunyai 2 lidah dan 2 mata dan boleh berkata-kata serta memberitahu; “Ya tuhanku dia kucup aku, dia betul-betul ikhlas.”

Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud; “Demi Allah! Allah akan membangkitkannya (Hajar Aswad) pada hari kiamat, baginya sepasang mata untuk melihat dan lidah untuk berkata-kata, menjadi saksi kepada sesiapa yang mengusapnya dengan kebenaran.” (Hadis riwayat al-Tirmizi)

Walapun ia adalah batu, ia hidup. Siapa yang menciumnya, ia akan menjadi saksi. Kalau tidak dapat mengucupnya, cukuplah sekadar istilam (mencium dari jauh secara isyarat). Amalan itu didakwa sebagai mencontohi kucupan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad s.a.w. Ulama menyatakan perbuatan istilam (melambai tangan) terhadapnya ketika memulakan tawaf atau mengucup Hajar Aswad (sekiranya dapat) termasuk perkara sunat yang boleh dilakukan semasa kita mengerjakan haji dan umrah.

Nabi Muhammad s.a.w. menciumnya sebagaimana dilakukan nabi sebelumnya, sehingga Hajar Aswad menjadi tempat bertemunya bibir kalangan nabi, orang soleh, jemaah haji dan mereka yang menunaikan umrah sepanjang sejarah.

Rasulullah s.a.w. bersabda, maksudnya: “Hajar Aswad itu diturunkan dari syurga, warna lebih putih daripada susu dan dosa-dosa anak cucu Adamlah yang menjadikannya hitam.”

Kalau ada peluang kucuplah, tapi jangan berebut hingga menyusahkan orang lain. Menyusahkan dan menyakitkan orang Islam yang lain bererti kita melakukan sesuatu yang ‘haram’ semata-mata untuk melakukan sunnah ini.

Demikian, Allahu a’lam.

Sumber :Matra